TEKTOK ITU BOLEH, TAPI JANGAN DILAKUIN KALO LO LAGI DI KONDISI INI!

24-03-2026


Tektok alias naik gunung pulang-pergi dalam satu hari memang lagi populer di kalangan pendaki. Praktis, cepat, dan buat sebagian orang jadi tantangan sendiri. Tapi ada satu hal yang sering dilupain: tektok itu tetap aktivitas fisik yang berat.


Kalau kondisi lo lagi nggak ideal, tektok malah bisa jadi bumerang. Bukannya menikmati perjalanan, yang ada malah kelelahan di tengah jalur. Nah, sebelum memutuskan tektok, ada beberapa kondisi yang sebaiknya lo pertimbangkan dulu.


Kurang Tidur

SOURCE: EIGER


Kurang tidur sebelum naik gunung itu kombinasi yang berbahaya. Tubuh yang belum benar-benar istirahat biasanya lebih cepat capek, fokus berkurang, dan gampang dehidrasi.


Di jalur pendakian, hal-hal kecil seperti salah pijakan atau telat mengambil keputusan bisa berujung masalah. Kalau malam sebelumnya lo cuma tidur sebentar, lebih baik turunin ekspektasi perjalanan, jangan langsung maksa tektok.


Meremehkan Jalur

Kadang ada pendaki yang berpikir, “Ah gunung ini pendek kok,” atau “jalurnya santai.” Padahal setiap gunung punya karakter dan tantangan sendiri.


Jalur yang kelihatannya ramah bisa berubah jadi berat kalau ditempuh cepat tanpa manajemen tenaga yang baik. Tektok menuntut tempo jalan yang konsisten, jadi kalau dari awal lo udah meremehkan jalurnya, kemungkinan besar tenaga bakal habis sebelum perjalanan selesai.


Sok Kuat

Ini yang paling sering kejadian. Banyak pendaki yang memaksakan diri karena nggak mau kelihatan lemah di depan teman-temannya.


Padahal naik gunung itu bukan kompetisi. Kalau tubuh sudah kasih sinyal capek, pusing, atau mulai kehilangan tenaga, itu tandanya lo harus berhenti dan evaluasi kondisi. Maksa tektok cuma karena gengsi bisa berakhir dengan perjalanan yang nggak aman.


Naik gunung harusnya jadi pengalaman yang menyenangkan, bukan ajang membuktikan siapa yang paling kuat. Jadi sebelum memutuskan tektok, coba tanya dulu ke diri sendiri: kondisi tubuh dan mental lagi siap atau nggak?


Kadang keputusan paling bijak bukan soal seberapa cepat lo naik gunung, tapi seberapa sadar lo sama batas diri sendiri.